Berita RS. Risa Sentra Medika

PENTINGNYA SIRKUMSISI

 



 Gambar pink korset by howkeye 

 

SIRKUMSISI (SUNAT)

 

Apa itu Sirkumsisi ( Sunat )

 

              Sirkumsisi atau yang lebih dikenal dengan istilah sunat di Indonesia, adalah prosedur bedah untuk membuang atau memotong kulit (kulup) yang menutupi penis. Ketika kulup dibuang, muara uretra atau lubang kencing dan glans penis (kepala penis) akan terbuka.

Saat baru lahir, kulup menempel pada kepala penis, yang tampak seperti tumpukan lapisan kulit karena berlipat. Di tengah kepala penis terdapat tabung yang memiliki lubang kencing dan merupakan jalan keluar air seni dan mani. Walaupun hanya sedikit bukti yang juga tidak meyakinkan, namun banyak orang meyakini bahwa kulup berperan melindungi dan menjaga kelembaban kepala penis, serta meningkatkan gairah seksual karena jaringan saraf tidak terputus. Di sisi lain, penelitian terbaru menyatakan bahwa sunat memiliki banyak manfaat.

Laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) menyatakan bahwa kulup cenderung meningkatkan resiko infeksi, karena kulup dapat mendorong peningkatan ekskresi cairan yang berpotensi sebagai jalan masuk patogen. Lebih lanjut lagi, dalam uji coba klinis, virus yang menyebabkan kanker, seperti kanker serviks, dubur, kanker penis dan vulva seringkali dihubungkan dengan pria yang tidak disunat. Semantara itu, penelitian kanker penis di Amerika Serikat di tahun 1954 dan 1997, mengungkapkan sedikitnya 95% terjadi pada pasien tidak disunat. Sunat juga dipercaya mengurangi resiko infeksi saluran kemih.

 

Siapa yang Perlu Menjalani Sirkumsisi/Sunat dan Hasil yang Diharapkan

 

            Salah satu alasan utama yang melatar belakangi sunat adalah agama. Prosedur sunat wajib hukumnya pada agama Yahudi, begitu pula di agama Kristen dan Islam. Dalam Islam sunat merupakan bagian dari syariat Islam. sunat dalam agam Islam termasuk bagian dari  fitrah

 

Di berbagai negara, sunat memiliki kombinasi antara dasar kebudayaan dan keagamaan. Contohnya, prosedur sunat dianggap sebagai tanda seorang anak lelaki memasuki masa pubertas. Hal ini seakan menjadi penjelasan mengapa di belahan negara lain, sunat dilakukan pada anak lelaki berusia 10 hingga 12 tahun.

 

Apa saja manfaat dari sirkumsisi/sunat :

 

  1. Menurunnya resiko terkena penyakit infeksi saluran kemih
  2. Menurunkan resiko pemyakit infeksi menular seksual
  3. Proteksi dari kanker penis dan proteksi dari kanker leher rahim pada pasangan wanitanya
  4. Mencegah dari balanitis (infeksi pada kepala penis) dan balanoposthitis (infeksi pada kepala dan preputium/kulit yang menutupi kepala penis)
  5. Mencegah Phimosis (tidak bisa ditariknya kulit preputium ke belakang kepala penis) dan Paraphimosis (tidak bisa kembalinya preputium ke posisi semula setelah di tarik ke belakang)

Gambar Dokterkhitanjogja.blogspot.com

 

                  Sunat merupakan kontraindikasi pada bayi dengan kelainan struktur alat kelamin tertentu, seperti lubang uretra yang salah (seperti hipospadia dan epispadias), kepala penis yang melengkung (chordee), atau alat kelamin ambigu, karena kulup mungkin diperlukan untuk operasi rekonstruksi. Sunat merupakan kontraindikasi pada bayi prematur dan bayi yang secara klinis tidak stabil dan tidak dalam kesehatan yang baik. Jika seorang individu, anak atau orang dewasa, memiliki riwayat gangguan perdarahan serius (hemofilia), disarankan agar darah diperiksa untuk koagulasi normal sebelum sunat dilaksanakan.

 

Cara Kerja Sirkumsisi / Sunat

 

Sirkumsisi (circumcision) / Sunat dapat dilakukan dengan  Teknik klasik / konvensional :

 

Pertama-tama mengiris kulit di bagian punggung penis (dorsumsisi). Ini dilakukan untuk mengeluarkan ujung bagian dalam penis. Kedua, mengiris kulit kulup yang mengelilingi penis. Dengan begitu, penis jadi terbuka. Setelah itu menjahit luka irisan tersebut agar penyembuhannya berlangsung cepat dan tidak timbul komplikasi.

Selain cara klasik di atas, masih ada banyak cara untuk menyunat. Di antaranya adalah:

 

▪  Cara kuno

Dengan menggunakan sebilah bambu tajam. Para bong supit alias mantri sunat langsung memotong kulup dengan bambu tajam tersebut. Namun cara ini mengandung risiko terjadinya perdarahan dan infeksi, bila tidak dilakukan dengan steril.

 

▪  Metode cincin / lonceng / klem (Circumcision Cord Device)

Pada metode ini, ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap meregang dengan cara memasang semacam cincin dari karet. Biasanya, ujung kulup akan menghitam dan terlepas dengan sendirinya. Prosesnya cukup singkat sekitar 3-5 menit.

 

▪  Dengan laser CO2.

Fasilitas Laser CO2 sudah tersedia di Indonesia. Salah satunya, di Jakarta. Laser yang digunakan adalah laser CO2, namun biaya penggunaan laser sangat tinggi dengan hasil yang sama saja dengan teknik klasik

 

▪   Sunat metode Electrocautery

Ini yang banyak disalah artikan sebagai sunat laser oleh masyarakat awam. Metode pemotongan ini menggunakan solder panas dan sempat booming beberapa tahun belakangan ini. Metode pemotongan elektrokauter ini membutuhkan energi listrik sebagai sumber dayanya. Namun belakangan ini metode elektrokauter ini banyak mendapat sorotan karena :

 

  1. Dapat menimbulkan luka bakar yang cukup serius.
  2. Jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang sangat berbahaya bagi pasien maupun operator.
  3. Dikemudian hari, luka bakar yang ditimbulkan menghasilkan bekas luka yang tidak baik secara estetika

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Sirkumsisi/Sunat

 

            Resiko dan komplikasi yang terkait dengan prosedur sunat sangat sedikit. Jika ada, maka bukanlah masalah besar dan hanya berupa pendarahan dan infeksi yang disebabkan oleh penanganan bekas luka yang kurang baik. Di negara yang kurang berkembang, resiko menjadi tinggi, khususnya jika praktisi medis yang melaksanakan prosedur tidak memiliki izin praktik.

 

Disarankan segera menemui dokter atau pergi ke unit gawat darurat di rumah sakit terdekat jika setelah disunat, terjadi hal-hal berikut ini pada Anda atau buah hati Anda:

 

  1. Perdarahan tidak berhenti.
  2. Dari ujung penis keluar cairan bernanah atau berbau busuk.
  3. Dua belas jam setelah disunat, urine tidak dapat keluar seperti biasa.
  4. Hingga beberapa hari setelah sunat, proses buang air kecil masih saja terasa menyakitkan.
  5. Setelah dua minggu, penis masih bengkak.
  6. Demam.

 

Penanganan setelah Sunat

 

           Jika sunat selesai dilakukan, hindari melakukan kegiatan berat seperti latihan beban, diving, jogging, atau kebut-kebutan naik motor. Ada beberapa hal yang harus dan dianjurkan untuk diperhatikan oleh orang yang baru dikhitan agar luka menjadi cepat sembuh, yaitu:

  1. Setelah sunat, umumnya penis akan berwarna merah, memar, dan bengkak. Luka sunat pada bayi memerlukan waktu sekitar 10 hari untuk sembuh. Sedangkan luka pada anak-anak dan pria dewasa, memerlukan sekitar sebulan untuk sembuh.
  2. Pemulihan setelah sirkumsisi/sunat akan lebih nyaman jika pasien tidak mengenakan celana dalam dan menggunakan celana yang longgar atau sarung. Anda juga menggunakan petroleum jelly pada ujung penis setelah sirkumsisi untuk mencegah penis menempel di celana.
  3. Rutin kontrol ke dokter untuk merawat luka.Tetap pastikan kebersihan alat kelamin terjaga untuk menghindari infeksi. Anda boleh mandi setelah diperbolehkan dokter, namun hindari mandi berendam.
  4. Pasien bisa mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit untuk mengurangi nyeri. Namun pastikan anak-anak di bawah 16 tahun mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen, dan aspirin dilarang untuk diberikan pada mereka. Pemberian antibiotik jika diperlukan.
  5. Hingga rasa nyerinya mereda, anak yang telah disunat tidak dianjurkan mengendarai sepeda atau mainan serupa.
  6. Pria dewasa yang melakukan sunat tidak dianjurkan melakukan hubungan seksual hingga luka sepenuhnya sembuh. Biasanya sekitar 4 – 6 minggu.